Postingan

Puisi: Seperti Kanvas

Gambar
  Seperti Kanvas Ku dan mu berawal dari kanvas Warna menjadi pengisinya Dikehendaki dan tak dikehendaki Nodanya tak bisa hilang sepenuhnya,  berbekas. Coretannya menentukan Baik, buruk Terang, gelap Samar Ya, karena coretannyalah yang menentukan. *sumber foto: dokumen pribadi

Puisi: Pulang

  Pulang Apalah arti rumah? Apakah dalam bentuk rangka, ataukah dalam bentuk raga? Apa menjelma pada entitas, atau menjelma pada jiwa? Entahlah, aku tak tahu. Langitnya sendu, awannya menangis. Wajahnya lusuh. Hatinya sepi. Tubuhnya dingin. Fana? Bukan! Nuraninya perlu nutrisi. Oasis? nyatanya fatamorgana. Elipsis? puisinya tak sempurna. Fisiknya nampak, akalnya hilang: jiwanya lelah Seketika mencari, ke mana tempatnya pulang? Ya sudahlah, aku tak tahu.

Sejarah: Tentang Keluarga dan DI/TII

  Tentang Keluarga -Tulisan ini adalah kumpulan cerita turun-temurun dari saksi sejarah di keluarga yang saya sajikan dengan tambahan riset untuk memastikan nama, tahun, dan peristiwa yang terjadi- Setiap keluarga punya cerita.   Sejak kecil, aku sering mendengar cerita Mama dan keluarganya tentang masa lalu. Saat itu, aku hanya bersikap "cukup tahu". Hingga akhirnya kini, di usiaku yang menjelang akhir 20-an, fakta-fakta penting dan bersejarah nyatanya menyelimuti masa lalu keluargaku. Pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia atau DI/TII  1949 menjadi masa yang kelam bagi kakek buyutku.  Pada masa itu, kakek buyutku adalah seorang pemuka agama di daerah Sumedang. Namun, beliau dituduh sebagai salah satu pemberontak DI/TII karena statusnya sebagai tokoh agama.  Suatu hari, beliau beserta ajudannya digiring ke sebuah hutan di bukit yang tak jauh dari rumahnya. Di sana, keduanya dieksekusi, ditembak mati dan dikuburkan di lubang yang sudah disediakan. Seb...

Puisi: Sudut Pandang

Gambar
Sudut Pandang Hitam Putih, atau abu? Baik Jahat, bukankah bisa menjadi keduanya? Datar Melingkar Derajat hanya sekadar angka Satuannya menjadi berarti Besarannya, yang menjadikannya kaya: sudut pandang Ku dan mu Benar, atau salah? Mafhum hadir, di antaranya. *sumber foto: dokumen pribadi

Puisi: Arunika

Gambar
  Arunika Bagaimana fajar menyingsing, indah bukan? Siluet biru,  merah,  kuning,  oranye,  berpadu... Padahal, belum lama pandangnya gelap. Bagaimana udara di terbit pagi, sejuk bukan? Padahal, belum lama dinginnya merasuk sendi. Jika mentari terbit tanda harapan, tenggelam tanda kehampaan, mengapa kita terlarut dalam kegelapan? Kartini bilang, habis gelap terbitlah terang Pun sebaliknya, batasnya di cakrawala. Ingatlah,  arunika tetap merona di bumi,  di langit, kan sama pandangnya. * arunika: cahaya matahari pagi *sumber foto: dokumen pribadi

Puisi: Petrikor

  Petrikor Derai hujan bergumul membasahi tanah berlomba, bergantian Pluviophile tersenyum, tetapi enggan basah ada payung melindunginya Kau bilang, kau suka aku? Kata hujan. Mereka menjawab, citraku adalah yang menyukaimu. Hujan kecewa, ternyata pluviophile tak sungguh menyukainya. Hujan bergeming, disusul aroma khasnya Adalah petrikor yang selalu beriringan, bersama, senyatanya.

SEUTAS KATA: ACAK PIKIR

 Tentang Pandemi      Dua hari lalu saya berbincang seru dengan mitra Gocar tentang Covid-19 dan Indonesia. Dengan santai, saya menyampaikan beberapa pendapat.  1. Pandemi Covid-19 adalah cara Sang Pencipta mengistirahatkan bumi.   Mobilitas manusia menjadi sangat terbatas sejak adanya pandemi ini. Pekerjaan yang biasanya dilakukan di kantor pun berpindah tempat, jadi di rumah. Orang-orang yang biasanya bebas pergi ke manapun, jadi lebih banyak diam di rumah. Kendaraan yang biasanya bising dan membuat kemacetan di jalan pun ikut istirahat di garasi. Hiruk pikuk dunia normal jadi tidak berlangsung selama beberapa waktu. Alhasil, polusi udara berkurang, bumi beristirahat dari kerusakan akibat ulah manusia.  2. Pandemi Covid-19 adalah cara Sang Pencipta memanusiakan manusia.  Sering dengar istilah manusia yang workholic ga pulang-pulang ke rumah/keluarga demi kerjaan, mungkin pandemi ini cukup memaksa mereka pulang, ya minimal karena mau ngapa...

Coretan: Termenung

  -Termenung- Aku duduk menghadap jendela kamar. Langit terlihat mendung, tapi lebih cerah dari kemarin. Cahayanya menembus kaca, tapi tak mampu menghangatkan. Aku terduduk, termangu dan termenung mengingat dua tahun perjalanan hidupku yang berputar lebih cepat dari pada rotasi bumi pada matahari, lebih besar dari besaran angka perpangkatan, lebih dinamis dari bentuk persamaan eksponensial. Ini aku, aku yang sekarang. Ya, ini aku yang sekarang. Yang hidup dengan jalan berliku tajam, tapi jauh berkali lipat membahagiakan.  Dahulu terdesak dan dikejar waktu, berpetualang tapi tak bisa menikmati. Berasas manfaat, tapi tak diterima. Berdalih untuk kebaikan, tapi tak dihargai.  Tapi, ini aku sekarang. Sedikit mengerti tentang apa yang hakiki. Bergerak dalam waktu yang lebih lama. Tapi bukan untuk bicara, melainkan untuk mengasilkan mahakarya. Terima kasih Tuhan. Terima kasih 'teman'. Terima kasih, Mah. Terima kasih 'kalian'. Ini aku yang sekarang, yang kembali hadir bukan un...

Coretan: Dua Puluh Satu

Dua Puluh Satu Dariku yang imannya masih setitik, yang sedang menatap sebagian hal dengan logika. Aku masih belajar soal wanita, soal ego dan sifat dasarnya yang ingin dilihat dan dikenal banyak orang.  Aku masih belajar soal wanita, soal cinta dan kecintaannya terhadap apa yang dicintainya. Aku masih belajar soal wanita, tentang rasa dan logika yang dimilikinya. Setitik tulisan, secarik catatan, secuil kenangan. Bukan didasarkan pada cibiran, hanya didasarkan pada pengalaman, pengamatan, dan pelajaran. Ini tentangku, tentang wanita mantan pengguna akun pribadi instagram. Dahulu, aku berharap akun ini sebagai wahana membagikan momen tak terlupa ataupun kisah inspiratif. Namun, waktu mengingatkanku tentang bahaya yang sesungguhnya mengintaiku dibalik semua itu.  Ini tentang hati dan penyakitnya. Sederhana saja, menyaksikan gambar dan kiriman orang-orang secara tak sengaja membuatmu berkomentar, memuji, salut, terinspirasi, mencibir, iri, atau bahkan mendengki.  Ya, banyak ...

Kerja Keras Indonesia dalam Menghadapi Pasar Bebas ASEAN

             Rencana realisasi Pasar Bebas ASEAN yang akan dibuka pada akhir 2015 akan menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia. Pasalnya, Indonesia harus mempersiapkan diri agar mampu bersaing dengan negara lain.             ASEAN Economic Community (AEC) yang menurut sejarahnya telah direncanakan dan disepakati oleh kesepuluh negara anggota ASEAN pada tahun 2003 lalu, berisi tentang perjanjian kerja sama antarnegara ASEAN dalam bidang ekonomi guna mencapai kesejahteraan bersama. ASEAN sebagai pasar dan basis produksi tunggal memuat lima unsur dasar. Lima unsur tersebut yaitu arus bebas barang-barang hasil produksi, arus bebas jasa, arus bebas investasi, arus bebas modal, dan arus bebas tenaga kerja (Bara Indrayana, 2014:11). Oleh karena itu, masyarakat Indonesia pada era pasar bebas ini dituntut agar mampu bersaing dengan warga negara lain jika tidak ingin menjadi ‘penonton’ kemajuan m...

BKKMTKI dan Peranan Mahasiswa Teknik Kimia dalam Kemandirian Indonesia

               Sebagai sebuah lembaga yang menaungi keluarga mahasiswa teknik kimia di seluruh Indonesia, Badan Koordinasi Kegiatan Mahasiswa Teknik Kimia Indonesia, atau yang lebih kita kenal dengan nama BKKMTKI, memiliki posisi yang sangat strategis dalam memberikan informasi maupun melakukan komunikasi kepada para mahasiswa teknik kimia di seluruh Indonesia. Dua dari tiga ide yang muncul dari para mahasiswa teknik kimia Indonesia dan mendasari berdirinya BKKMTKI, yaitu untuk meningkatkan mutu mahasiswa teknik kimia (baik dari segi akademis maupun sumber daya manusia) dan menjadi wadah komunikasi serta informasi bagi mahasiswa teknik kimia, adalah sebuah pemikiran luar biasa sebagai cita-cita bagi mahasiswa teknik kimia di seluruh Indonesia. Lalu, bagaimanakah peranan BKKMTKI terhadap mahasiswa teknik kimia di Indonesia?            Peranan BKKMTKI bagi para mahasiswa teknik kimia Indonesia cukup besar, ter...

Cerita Pendek (Cerpen)

            Pusara Hati              Niluh sedang membereskan buku tatkala ia menemukan selembar foto usang yang tak sengaja terinjak olehnya. Foto tua yang usang dimakan usia, hingga ia tak mampu mengenali gambar siapa yang ada di dalamnya.          “Sudah kau bereskan bukumu, Nak?” tanya Ibu, sontak membuyarkan lamunannya. Segera ia menghampiri ibunya yang sedari tadi menunggu di teras belakang.          Ibu tersenyum menatap Niluh kecilnya yang manis dan lucu yang kini telah tumbuh dewasa menjadi seorang gadis yang cantik dan menawan. “Bu, apa kau mengenali foto ini?” tanya Niluh pelan, sesaat setelah menghampiri ibunya. Keduanya terdiam. Ibu memperhatikan foto itu dengan saksama. Senyuman getir dan air mata mengalir membasahi pipinya yang mulai keriput. Niluh masih diam terpaku, baru kali ini ia menyaksikan ibunya menangis. Segera ia menghapus air mata...

Pemilihan Duta Bahasa Jawa Barat 2014

Gambar
Andakah generasi muda peduli bahasa selanjutnya? Ikuti Pemilihan Duta Bahasa jawa Barat 2014 dan jadilah relawan kebahasaan! Informasi lebih lanjut, ikuti linimasa https://twitter.com/dutabahasajabar .      Berikut k riteria menjadi Duta Bahasa Jabar 2014: -           berusia 18-25 tahun dan belum menikah -           berwawasan luas dan memiliki pengetahuan tentang Jawa Barat -           mengetahui bahasa asing dan salah satu bahasa daerah di Jawa Barat -          mengisi formulir pendaftaran yang dapat di unduh di:         http://www.4shared.com/office/ztxyP2uJce/FORMULIR_DUTA_BAHASA_2014_1.html -           satu lembar salinan KTP -           foto terbaru setengah ...